Sebagian peternak ada yang masih khawatir pemberian dedaunan semacam daun ketela dapat meracuni ternak mereka. Mereka berpendapat begitu berdasarkan faktor pengalaman. Namun sebenarnya saat ditelusuri lebih lanjut, kasus semacam ini kebanyakan karena pemberian daun ketela dalam kondisi segar. Jika diberikan dalam kondisi kering, hal ini tidak terjadi.

Saat daun ketela masih segar, dia mengandung racun HCN atau asam sianida dalam kadar cukup tinggi (sekitar 170 mg/Kg). Kandungan zat racun ubi kayu dikategorikan beracun, bila kadar HCN antara 80-100 mg/kg, sedangkan jika nilai HCN kurang dari 50 mg/kg, maka masuk pada kategori tidak beracun. Racun ini akan berkurang sampai batas aman tsb., jika daun dipanaskan atau dikeringkan, sehingga dianjurkan pemberian daun ketela dalam kondisi dilayukan dibawah sinar matahari selama setengah hari (dijemur pagi hari untuk diberikan sore hari) atau dapat juga dikeringkan dengan cara dijemur selama sekitar 2 hari sehingga mencapai kadar air yang cukup rendah untuk dapat disimpan sebagai salah satu bentuk pengawetan pakan ternak.

Pelayuan bisa dilakukan dalam kondisi daun utuh atau sudah dipotong-potong. Penurunan kadar HCN pada daun yang dipotong-potong akan lebih besar daripada daun yang utuh.  Pelayuan pada suhu ruangan (kondisi teduh) selama 5 hari akan menurunkan kadar HCN pada tingkatan yang sangat rendah sehingga tidak terdeteksi lagi. Setidaknya 2 hari pelayuan dalam suhu kamar bisa menurunkan kadar HCN hingga sekitar 70 mg/kg (kurang lebih setara dengan kondisi setelah di oven pada suhu konstan 37 derajat Celsius selama 6 jam), sehingga untuk amannya 3 hari dalam suhu kamar / dalam ruangan, diperlukan. Jika ingin mempercepat penguapan HCN maka daun ketela perlu dijemur/dipotong-potong.

Selain itu, faktor adaptasi ternak juga berpengaruh pada toleransi terhadap racun HCN ini. Ternak yang sudah beradaptasi dengan pakan daun ketela segar tidak mengalami kasus keracunan HCN. Manfaat lain dari daun ketela selain sebagai pakan yang memiliki kecernaan dan nutrisi yang baik, juga dapat berfungsi sebagai obat cacing alami bagi ternak, sebagaimana hasil penelitian penulis.