Dr. J. Daryatmo (www.areailmu.com)

Pada tahun 2007 total populasi kambing di dunia adalah 851 juta, terdiri dari 1156 bangsa, dari populasi tersebut jumlah kambing di negara berkembang sekitar 98% dengan jenis bangsa sekitar 76%. Populasi terbanyak di Asia (480 juta) dan Afrika (169 juta). Di Indonesia populasi ternak kambing pada tahun 2000 adalah 12,6 juta ekor dan menjadi 15,8 juta ekor pada tahun 2008 (BPS, 2009). Populasi terbesar ada di pulau Jawa, sedangkan di pulau-pulau lain populasi kambing masih rendah.

Menurut data  BPS 2010, Potensi pakan ternak yang berasal dari hasil samping pertanian terutama didapatkan di pulau Jawa, sehingga dapat dimengerti bahwa populasi ternak ruminansia yang tertinggi didapatkan di Pulau Jawa, oleh karenanya dapat dijadikan pemikiran untuk pengembangan ternak di Pulau Jawa berdasarkan hasil pertanian, sedangkan pengembangan di Sumatera, Kalimantan, Papua dsb berdasarkan rumput dan hijauan dan pemanfaatan lahan perkebunan sehingga produk perkebunan dapat digunakan sebagai alternatif sumber pakan.

Ternak kambing lebih menyukai dedaunan dibandingkan domba dan sapi, akan tetapi dapat juga diberikan rerumputan dan hasil samping pertanian (jerami kacang tanah, jerami jagung, jerami kedelai, daun ketela dsb). Usaha untuk meningkatkan produktivitas ternak di negara berkembang biasanya dibatasi oleh 2 hal, yaitu: nutrisi dan kesehatan. Problem kekurangan nutrisi (undernutrition) pada umumnya terjadi pada akhir musim kemarau atau awal musim hujan dimana tanaman belum tumbuh dengan baik dan produk hasil samping pertanian belum tersedia banyak.

Selain masalah pakan yang harus diatasi, terdapat masalah lain yang perlu juga mendapat perhatian karena berhubungan dengan produktivitas ternak, yaitu masalah penyakit pada ternak dan difokuskan pada materi kali ini adalah utamanya penyakit karena parasit cacing. Parasit cacing ada banyak sekali jenis dan macamnya, sehingga perlu kita persempit lagi menjadi parasit cacing yang banyak terdapat pada lambung ternak yaitu cacing Haemonchus sp.  Jenis cacing ini menurut para ahli yang meneliti cacing ini di Indonesia, adalah jenis parasit cacing yang paling banyak ditemukan, sehingga perlu mendapat perhatian lebih. Parasit haemonchiasis yaitu suatu infeksi yang disebabkan cacing Haemonchus dalam lambung yang menghisap darah. Cacing ini merupakan suatu endoparasit yang sangat berpengaruh terhadap penurunan produktivitas ternak.

Selama ini, peternak selalu dicekoki dengan pengetahuan yang sudah tidak tepat lagi di jaman sekarang ini, yaitu bahwa makhluk hidup yang dianggap mengganggu kepentingan manusia akan dianggap sebagai hama yang tidak berhak untuk hidup dan harus dimusnahkan dari muka bumi ini. Padahal setiap makhluk diciptakan dengan kegunaannya masing-masing dan jika keseimbangan alam terganggu  itu sama dengan membuat kerusakan di muka bumi dan akhirnya manusia pulalah yang akan menanggung akibatnya. Salah satu contoh buruk disini adalah penanganan parasit cacing pada ternak. Alih-alih melakukan pencegahan penyakit cacingan dengan manajemen perkandangan dan pakan, peternak cenderung mengambil jalan pintas dengan memakai obat cacing kimiawi sebagai pencegahan. Makin lama dengan dosis yang semakin besar jika dianggap kurang ampuh atau berganti-ganti merek maupun jenis obat cacingnya.

Negara maju sudah mengalami efek samping penggunaan obat cacing kimiawi yang digunakan secara teratur ini. Kontrol atau pencegahan parasit pada saat ini menjadi suatu perhatian yang sangat serius, khususnya pada ruminansia kecil (kambing, domba). Hal ini disebabkan karena terjadinya suatu resistensi secara kimiawi. Obat-obatan (anthelmintika modern) yang digunakan sebagai kontrol parasit nematoda (cacing), mengakibatkan suatu resistensi pada kambing dan domba. Ditemukannya residu obat-obatan di dalam produk peternakan (susu dan daging) dan adanya peningkatan preferensi terhadap produk pertanian organik, menyebabkan terjadinya peningkatan kehati-hatian akan penggunaan obat hewan, sehingga mulai banyak diinvestigasi penggunaan tanaman sebagai kontrol/pencegahan parasit. Sumber daya alam yang beragam di Indonesia memberikan peluang yang sangat tinggi untuk menggali jenis tanaman yang mempunyai sifat anti parasit, sehingga pemakaian obat cacing seperti anthelmintika komersial dapat dikurangi. Penggunaan solusi alami ini selain ramah lingkungan, tidak berefek negatif pada performan ternak dan konsumen pemakan dagingnya, juga relatif lebih murah sehingga bisa menjadi solusi hemat dalam mencegah penyakit cacingan pada ternak.

Contoh penggunaan pakan ternak sekaligus sebagai pencegah cacingan secara alami yang dapat direkomendasikan karena telah melalui tahapan penelitian adalah sebagai berikut: Bahan pakan yang bisa digunakan antara lain adalah daun ketela dan daun pepaya, dimana merupakan bahan pakan yang telah diseleksi berdasarkan kecernaannya maupun berdasarkan produksi gas hasil fermentasi.

Daun ketela yang digunakan sebagai pakan bisa dalam keadaan kering sebagai bentuk pengawetan bahan pakan. Pengeringan daun ketela pohon dilakukan dengan menggunakan sinar matahari selama 2 hari, hal ini tidak mempengaruhi kecernaannya. Penggunaan daun ketela pohon kering pada kambing sebanyak 200 gram perhari yang ditambahkan pada pakan basal rumput raja selama 15 hari sudah dapat menurunkan jumlah telur cacing sebesar 50% dan pada pemberian selama 45 hari akan menurunkan jumlah telur cacing sebesar 76%. Hal ini menunjukkan bahwa daun ketela dapat digunakan sebagai suplemen pakan kambing karena kandunga protein cukup tinggi (20%) dan sekaligus sebagai anti parasit alami.

Daun pepaya juga dapat digunakan sebagai bahan pakan sekaligus anti parasit alami. Daun pepaya muda pada umunya dimanfaatkan sebagai pangan manusia, sedangkan daun tua biasanya digunakan untuk pakan hewan. Produksi daun pepaya sayangnya lebih rendah dibandingkan daun ketela pohon, namun kualitasnya juga bagus dengan kandungan protein 20%. Penambahan daun pepaya tua yang telah dikeringkan sinar matahari pada pakan basal rumput raja, sebanyak 200 gram selama 15 hari, menurunkan jumlah telur cacing sebesar 28% dan pemberian selama 45 hari mampu menurunkan jumlah telur cacing sebesar 76%.

Efek anti parasit ini disebabkan kandungan di dalamnya antara lain tanin.  Sebenarnya cukup banyak jenis-jenis pakan ternak lain yang juga dapat digunakan sebagai alternatif, karena juga mengandung tanin, namun untuk sementara belum dilakukan penelitian menggunakan ternak dan baru diteliti di dalam laboratorium. Namun tidak ada salahnya untuk mencoba sendiri tanaman pakan tersebut, yaitu antara lain: daun turi, daun nangka, daun glirisidia/gamal, daun akasia, daun mahoni, daun jambu, daun randu dsb.